Posts Tagged ‘serangga’

Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono mengatakan serangga “tomcat” atau kumbang rove yang memiliki racun penyebab luka pada kulit manusia, takut pada sinar matahari.

“Tomcat takut pada sinar matahari meskipun dia suka pada cahaya lampu,” kata Agung Laksono di Jakarta, Kamis.

Untuk itu, Agung meminta masyarakat mewaspadai tomcat di daerah yang lembab dan tidak terpapar sinar matahari.

“Masyarakat sendiri diimbau untuk kerap menutup pintu dan bila ada jendela diberi kasa nyamuk untuk mencegah kumbang itu masuk,” katanya.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidur menggunakan kelambu jika di daerahnya tengah mewabah serangan kumbang tersebut.

Agung mengatakan, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian telah melakukan koordinasi untuk menanggulangi serangan tomcat.

“Salah satu upaya penanggulangan adalah penyemprotan insektisida dan sosialisasi kepada masyarakat,” katanya.

Masyarakat, tambah Agung harus menjaga kebersihan rumah dan lingkungan terutama tanaman yang tidak terawat yang ada di sekitar rumah karena bisa menjadi tempat kumbang Paederus.

Selain itu, masyarakat juga dilarang menggosok kulit atau mata bila bersentuhan dengan kumbang tomcat.

“Bila kumbang ini berada di kulit kita, singkirkan dengan hati-hati, dengan meniup atau mengunakan kertas untuk mengambil kumbang,” katanya.

Selain itu, dia juga mengimbau untuk segera beri air mengalir beserta sabun pada kulit yang bersentuhan dengan serangga itu.

http://id.berita.yahoo.com/tomcat-takut-sinar-matahari-034431551.html

Serangga bisa menjadi sumber protein yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Tak diragukan lagi, bahwa serangga mengandung protein yang tinggi. Tak heran bila sejak lama sudah banyak pemikiran untuk memanfaatkan serangga sebagai ‘kudapan’ yang menyehatkan.

Baru-baru ini, para peneliti dari Wageningen University Belanda, menegaskan kembali hal itu dengan hasil terbaru dari studi mereka.

Memang menjadikan serangga sebagai makanan mungkin masih menjijikkan bagi sebagian besar orang. Namun, di beberapa tempat, seperti misalnya di Afrika bagian selatan, ulat Mopani, adalah snack yang cukup populer.

Orang Jepang juga sudah sejak lama mengkonsumsi larva serangga air, sementara orang Meksiko juga sudah sering menjadikan belalang sebagai makanan. Sayangnya tradisi ini tidak cukup populer di kebudayaan modern.

Padahal, menurut hasil riset tim Wageningen University, serangga menyumbang jejak gas rumah kaca yang lebih banyak karena memproduksi lebih sedikit methan, nitrous oxide, dan ammonia, daripada daging sapi atau babi.

“Ini membuktikan bahwa hipotesis bahwa serangga bisa menjadi sumber protein yang lebih efisien, dan saya sangat yakin akan ada serangga yang dapat dimakan, di masa depan,” kata Dennis Oonincx, dari Wageningen University.

Padahal, Food and Agriculture Organization (FAO) menyalahkan sektor pangan sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup besar, yakni sekitar 9 persen dari emisi karbon dioksida. Salah satu yang terbesar, adalah dari penggunaan lahan (37 persen dari methan dan 65 persen emisi nitrous oxide).

Oleh karenanya, mereka berkesimpulan bahwa konsumsi serangga bisa menjadi solusi yang tepat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, yakni mampu mereduksi hingga 30 persen pada produksi pangan, berkat penurunan dari konsumsi daging. Tak hanya itu, ini juga berarti akan ada pengurangan kematian tiba-tiba akibat penyakit jantung.

sumber artikel : http://teknologi.vivanews.com/news/read/206984-selamatkan-dunia–ayo-makan-serangga-
sumber gambar : gettyimages.com

Punahnya satu makhluk pasti berdampak pada ekosistem secara keseluruhan. Tapi jika yang punah adalah nyamuk penyebab berbagai penyakit seperti malaria, demam berdarah hingga chikungunya, adakah dampak negatifnya?

Perlukah serangga satu ini dihabisi agar dunia terbebas dari penyakit akibat serangga?


Nyamuk merupakan salah satu serangga yang sudah ada sejak zaman dulu kala. Peneliti memperkirakan, serangga ini sudah hidup berdampingan dengan makhluk lain di muka bumi ini sejak 100 juta tahun yang lalu.

Dari lebih dari 3.500 spesies nyamuk di muka bumi ini, sebenarnya hanya ada ratusan spesies yang menyerang manusia. Namun tak dapat dipungkiri, nyamuk menjadi salah satu musuh utama karena menularkan berbagai penyakit mematikan.

Berbagai upaya pernah dilakukan oleh manusia untuk melenyapkan nyamuk, terutama jenis tertentu yang menularkan penyakit. Sebagian besar memang masih sebatas riset di laboratorium, namun prospeknya cukup menjanjikan.

Salah satunya pernah dilakukan oleh tim dari University of Oxford. Rekayasa genetika yang dilakukan tim tersebut berhasil menciptakan nyamuk jantan yang jika mengawini nyamuk betina maka akan menghasilkan nyamuk tak bersayap.

Meski bisa menggigit, nyamuk mutan tersebut tidak bisa terbang karena tidak memiliki sayap. Karena nyamuk betina harus terbang untuk bisa minum darah, lama-kelamaan nyamuk tidak bisa berkembang biak lalu punah.

Dengan teknologi yang sama, tim dari University of Arizona juga pernah menghasilkan nyamuk anophales yang kebal virus malaria. Meski tidak bertujuan untuk memusnahkan nyamuk, cara ini juga bertujuan untuk melenyapkan penyakit
malaria.
Seandainya nyamuk-nyamuk mutan itu bisa diproduksi secara masal lalu dilepas ke alam dan menyebabkan kepunahan, dampak seperti apa yang akan terjadi?

Dikutip dari Nature, Rabu (18/8/2010), dampak paling besar dari punahnya nyamuk akan terjadi di habitat tundra (padang es) di kutub utara. Di tempat yang merupakan sarang terbesar bagi spesies nyamuk Aedes impiger dan Aedes nigripes, migrasi burung akan berkurang hingga 50 persen karena berkurangnya salah satu makanan kesukaan para burung.

Migrasi satwa yang lain juga akan terpengaruh, antara lain karibu atau sejenis rusa kutub. Ribuan karibu yang sebelumnya menghindari gigitan nyamuk akan menyerbu wilayah tundra, lalu diikuti para serigala yang merupakan predator utama para karibu.

Spesies ikan pemakan nyamuk, Gambusia affinis juga terancam punah jika nyamuk sudah tidak ada. Punahnya ikan ini sedikit banyak tentunya juga akan berdampak pada rantai makanan yang terjadi di perairan air tawar.

Terlebih lagi, larva atau jentik nyamuk turut memegang peran dalam penguraian sampah organik. Saat berada di genangan air, jentik-jentik tersebut mendapatkan nutrisi untuk tumbuh dari sisa-sisa tanaman yang membusuk.

Namun banyak kalangan menilai, dampak yang terjadi di ekosistem tersebut sebanding dengan tingkat kematian pada manusia akibat gigitan nyamuk. Malaria misalnya, tercatat menelan 247 juta korban jiwa di seluruh dunia setiap
tahunnya.

Apalagi para pakar meyakini, berbagai jenis insektivora (pemakan serangga) tidak akan terlalu kesulitan beradaptasi untuk beralih memangsa serangga lain jika sudah tidak ada nyamuk. Sedangkan untuk penguraian sampah organik, peran jentik nyamuk bukan tak tergantikan karena masih banyak jenis pengurai yang lain.

sumber : health.detik.com dari apakabardunia.com