Posts Tagged ‘fisik’

Selain nikotin dan ratusan racun berbahaya lainnya, rokok juga mengandung unsur radioaktif yang disebut sebagai ion alfa. Keberadaan unsur berbahaya ini diklaim sudah diketahui oleh industri rokok, namun disembunyikan selama 42 tahun.

Klaim mengejutkan ini disampaikan oleh para peneliti dari University of California di Los Angeles dan dipublikasikan di jurnal Nicotine and Tobacco Research. Para peneliti mengungkap hal itu setelah mempelajari dokumen-dokumen rahasia dari industri rokok sejak tahun 1998.

Salah satu dokumen menyebutkan, adanya bahan radioaktif dalam rokok sudah diketahui 5 tahun lebih awal daripada yang diduga selama ini. Pada awal 1960-an, industri rokok diam-diam sudah melakukan investigasi mendalam terkait kemungkinan adanya unsur radiasi.

“Industri rokok sudah menyadari adanya unsur radioaktif dalam rokok sejak 1959. Mereka tahu itu memicu kanker, tetapi menyembunyikan fakta itu bertahun-tahun,” ungkap Hrayr S Karagueuzian, profesor kardiologi yang memimpin penelitian itu seperti dikutip dari Indiavision, Jumat (30/9/2011).

Tak hanya itu, dokumen tersebut juga menunjukkan bahwa selama itu industri rokok berusaha mengaburkan fakta tentang radiasi asap rokok dan bahayanya bagi kesehatan. Hasil-hasil penyelidikan tentang ion alfa yang berbahaya tidak boleh dipublikasikan.

Unsur radioaktif dalam rokok, seperti ditulis detikHealth sebelumnya, berasal dari mineral alami di dalam tanah maupun penggunaan pupuk. Salah satu unsur yang melepaskan ion alfa adalah polonium, yang tingkat radiasinya disebut-sebut 7 kali lebih besar dari sinar X.

Efek radiasi pada asap rokok bisa terakumulasi, kemudian dalam jangka panjang akan memicu kerusakan paru-paru atau bahkan kanker. Bukan hanya perokok aktif saja yang bisa terkena dampaknya, perokok pasif atau bahkan third hand smoker juga terancam kesehatannya.

http://www.detikhealth.com/read/2011/09/30/120158/1733898/763/radiasi-dalam-rokok-diketahui-sejak-1959-tapi-disembunyikan?l991101755

Iklan

Belakangan ini kita sering mendengar pemberitaan mengenai dampak buruk sinar matahari sehingga banyak orang berhati-hati untuk melindungi diri dari bahaya sinar ultraviolet matahari. Namun begitu sejumlah penelitian membuktikan bahwa paparan sinar matahari sebenarnya memberikan bagitu banyak manfaat manfaat kesehatan.

Sinar matahari merupakan salah satu karunia yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia di muka bumi. Matahari menjaga agar bumi tetap hangat dan mencegah dunia dari kebekuan. Akan tetapi, jika tubuh terlalu sering terpapar matahari dapat meningkatkan risiko terkena kanker juga katarak.
Sunburn atau kulit terbakar matahari adalah kondisi yang disebabkan oleh sinar radiasi UVB yang terlalu tinggi dan ini (radiasi UVB) juga dapat menyebabkan kerusakan DNA. Meski demikian, jika dimanfaatkan dalam jumlah yang tepat, sianr matahari dapat membuat kita menjadi lebih sehat dan tentunya bahagia. Berikut ini beberapa manfaat kesehatan dari sinar matahari:

1. Vitamin D : Sinar matahari merangsang tubuh memproduksi vitamin D. Paparan sinar matahari pada wajah, leher, lengan, dan kaki selama 10-15 menit dapat menghasilkan 1.000 unit internasional (IU) sampai 3.000 IU, tergantung pada jenis kulit dan kebutuhan vitamin D yang diperlukan oleh tubuh masing-masing dalam satu hari.
Vitamin D berfungsi untuk meningkatkan penyerapan kalsium di dalam usus dan mentransfer kalsium melintasi membaran sel, sehingga dapat menguatkan tulang. Vitamin D juga dapat memberikan perlindungan terhadap jenis kanker (seperti kanker paru-paru, prostat, dan kulit), osteoporosis, rakhitis, dan diabetes. Selain itu, vitamin D dapat membantu menurunkan kadar kolestrol darah sehingga membantu melawan penyakit jantung.

2. Serotonin : Selain merangsang tubuh untuk membuat vitamin D, sinar matahari juga dapat merangsang produksi hormon serotonin, sebuah neurotransmitter di otak yang mengatur suasana hati. Tingkat serotonin yang cukup tinggi dapat menghasilkan suasana hati yang lebih positif dan cara berpikir yang tenang dengan mental yang fokus.

3. Atasi depresi : Orang dengan gangguan afektif musiman (SAD) dapat mengembangkan gejala depresi (seperti kehilangan minat pada kegiatan sehari-hari, merasa tidak memiliki tenaga atau kelelahan, dan kemurungan) pada bulan-bulan musim dingin atau ketika sinar matahari kurang terpancar. Sinar matahari dapat mengurangi gejala depresi dengan cara melepaskan endorfin. Endorfin sendiri adalah suatu anti-depresan alami yang dimiliki tubuh dan sangat berguna dalam kasus-kasus depresi musiman.

4. Tingkatkan sirkulasi darah : Sinar matahari mapu meningkatkan sirkulasi darah dengan melebarkan pembuluh darah di kulit. Dengan begitu, nutrisi dan oksigen lebih banyak dibawa menuju sel-sel ketika pembuluh darah kapiler terbuka sehingga kesehatan pun menjadi lebih baik. Selain itu, jantung pun menjadi lebih sehat dengan menurunkan denyut nadi ketika beristirahat dan mengurangi tekanan darah.

5. Memperbaiki kulit : Berjemur dengan aman telah terbukti memperbaiki kondisi kulit kronis, seperti jerawat, eksim, dan psoriasis. Terpapar sinar matahari juga dapat menurunkan manifestasi dari tanda perengangan, bekas luka, dan ketidaksempurnaan kulit lainnya.

6. Turunkan risiko kanker : Sintesis vitamin D, yang disebabkan oleh sinar matahari, dapat menurunkan risiko dari berbagai bentuk kanker seperti kanker prostat, kanker payudara, kanker usus, dan kanker ovarium. Tetapi hati-hati, terlalu lama terpapar sianr matahari dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit.

7. Cegah diabetes : Sebuah studi baru menunjukkan bahwa dengan terpapar sinar matahari dan vitamin D yang cukup dapat mencegah diabetes tipe 1 pada anak-anak. Beberapa juga meyakini bahwa terpapar sinar matahari juga dapat menurunkan kadar gula darah dengan merangsang penyimpanan kadar gula didalam otot dan di hati.

8. Menguatkan sistem kekebalan : Sinar matahari dapat menguatkan sistem kekebalan tubuh, karena ketika terpapar sinar matahari, tubuh menghasilkan lebih banyak sel darah putih yang membantu menangkal infeksi dan berbagai penyakit akibat bakteri, jamur, dan virus.

9. Detoksifikasi tubuh : Paparan sinar matahari juga dapat meingkatkan pengeliminasian racun dalam tubuh dengan memperbaiki fungsi hati. Selain itu, sinar matahari juga meningkatkan sirkulasi darah, sehingga racun-racun tereliminasi lebih efisien melalui darah.

10. Perbaiki kualitas tidur : Dengan terpapar sinar matahari, produksi melatonin pun meningkat. Melatonin adalah suatu hormon yang diproduksi oleh kelenjar pinea-organ tubuh berukuran seperti kacang kecil yang ditemukan di dasar otak. Melatonin sangat dibutuhkan unutk kualitas tidur yang baik.

11. Perbaiki sistem pencernaan : Sinar matahari juga merupakan pengobatan terbaik unutk meningkatkan nafsu makan. Selain itu juga dapat memperbaiki sistem pencernaan dan meningkatkan metabolisme.

Meskipun memiliki berbagai macam manfaat bagi tubuh, namun para ahli mengingatkan bahwa paparan sinar matahari yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan mata, melanoma, dan kanker kulit. Jadi pastikan memilih waktu yang tepat untuk mendapatkan paparan sinar matahari serta melindungi kulit dengan mengenakan topi, pakaian yang tepat, atau menggunakan sun screen.

Sekretaris Medis dari Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Adityawati Ganggaiswari, dalam sebuah kesempatan menyatakan manusia di Indonesia relatif banyak terpajan sinar ultraviolet setiap harinya dalam jangka waktu yang lama.
Tetapi, orang Indonesia termasuk cukup beruntung karena memiliki banyak pigmen atau penyebab kulit berwarna coklat kehitaman. Pigmen pada kulit tersebut berfungsi melindungi tubuh dari pajanan ultraviolet.

Aditya menyarankan, berjemur di pagi hari selama beberapa saat adalah cara terbaik untuk memeroleh manfaat sinar matahari. Yang perlu dihindari adalah pajanan sinar UV terutama antara pukul 10.00 sampai 16.00.

http://faktabukanopini.blogspot.com/2011/09/11-alasan-wajib-berjemur-di-pagi-hari.html

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 4 pembunuh terbesar manusia saat ini. Bukan lagi perang, bencana alam atau penyakit
menular melainkan penyakit-penyakit serius yang timbul akibat gaya hidup tidak sehat.

Keempat pembunuh manusia terbesar itu adalah: diabetes, kanker, penyakit paru-paru dan jantung. Data WHO menunjukkan hampir 80 persen dari penyakit kanker, diabetes, jantung dan paru-paru terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

WHO mencatat kematian akibat penyakit tidak menular (NCDs/non-communicable diseases) akan meningkat sebesar 17 persen pada dekade berikutnya. Di Afrika, jumlah tersebut akan terus meningkat sebesar 24 persen.

“Hasil statistik tersebut sangat mengkhawatirkan, tetapi kami tahu bagaimana cara untuk menurunkan angka tersebut,” kata Sekjen PBB, Ban Ki-moon dalam sidang majelis umum PBB yang membahas mengenai masalah kesehatan di gedung PBB seperti dilansir dari VOANews, Selasa (20/9/2011).

Keempat penyakit ini memiliki efek yang dapat melemahkan aspek sosial ekonomi. Hal tersebut disebabkan karena mungkin sebagian besar dari tenaga kerja ada yang sakit atau mati ketika usia produktif, maka ekonomi nasional akan kehilangan penghasilan dan jutaan keluarga terdorong ke dalam kemiskinan, sehingga mengancam pembangunan nasional.

Efek jangka panjang keuangan sangat dapat menghancurkan. Penelitian World Economic Forum and Harvard University memperkirakan bahwa selama 20 tahun ke depan penyakit tidak menular (NCDs) dapat menghabiskan biaya ekonomi global lebih dari US$ 30 triliun.

PBB telah mengadakan pertemuan tingkat tinggi untuk membahas penyebab kematian terbesar di dunia, yaitu NCDs (non-communicable diseases). Pertemuan yang berlangsung pada 19 September 2011 tersebut dilakukan guna membahas bagaimana pemerintah dapat mengendalikan 36 juta kematian setiap tahun dari penyakit yang seharusnya dapat dicegah dan diobati.

Ban Ki-moon mengatakan bahwa, kunci untuk menurunkan angka kematian akibat penyakit-penyakit tersebut adalah dengan meningkatkan olahraga, meningkatkan gizi, dan pemeriksaan dini untuk penyakit ini.

Makanan olahan merupakan salah satu penyebab
obesitas, yang pada akhirnya dapat menimbulkan berbagai macam penyakit.

“Khususnya saya menghimbau pada perusahaan yang mendapatkan keuntungan dari menjual makanan olahan untuk anak-anak agar bertindak dengan bertanggungjawab. Tidak hanya untuk produsen makanan, tetapi juga perusahaan media, pemasaran dan periklanan yang juga memainkan peran sentral dalam perusahaan ini. Kita semua juga dapat bekerja sama untuk mengakhiri penggunaan tembakau dan alkohol,” kata Ban Ki-moon.

Sedangkan Direktur Jenderal WHO, Margaret Cha mengatakan makanan olahan yang tinggi garam, lemak, dan gula telah menjadi makanan pokok baru di seluruh dunia. Berbagai makanan olahan tersebut tersedia dan dipasarkan secara luas dan tentunya dijual dengan harga yang murah.

Tetapi ia memperingatkan bahwa tren ini merupakan faktor yang telah menyumbang peningkatan kejadian penyakit tidak menular (NCDs). Makanan olahan telah meningkatakan risiko obesitas. Lebih dari 40 juta anak pra sekolah mengalami obesitas atau kelebihan berat badan dan lebih dari 50 persen dari populasi orang dewasa di beberapa negara juga telah mengalami obesitas. Obesitas menjadi pintu masuk penyakit mematikan seperti diabetes dan jantung.

http://www.detikhealth.com/read/2011/09/20/124539/1726325/763/4-pembunuh-manusia-terbesar-versi-who?l991101755

Puasa berarti tidak minum seharian, sehingga cairan tubuh yang hilang tidak tergantikan. Untuk mencegah dehidrasi, beberapa hal terkait pola makan perlu diperhatikan salah satunya dengan memasukkan buah segar dalam menu makan sahur.

Buah-buahan tertentu khususnya yang banyak mengandung air bisa membantu menjaga kecukupan cairan selama berpuasa sepanjang hari. Melon, semangka, timun dan tomat termasuk buah-buahan yang dianjurkan untuk dikonsumsi saat makan sahur dan berbuka.

Selain mengandung air, buah-buahan tersebut juga banyak mengandung mineral penting untuk menjaga keseimbangan eletrolit tubuh. Kandungan mineralnya lebih banyak dibandingkan sumber-sumber karbohidrat seperti nasi dan roti, maupun lauk- pauk seperti ikan dan daging ayam.

Meski demikian, unsur terpenting yang harus dipenuhi untuk mencegah dehidrasi di siang hari tentu saja air. Air putih paling dianjurkan, sementara kopi dan teh sebaiknya dikurangi karena mengandung kafein yang bersifat diuretik atau meluruhkan kencing.

Minuman bersoda juga harus dibatasi selama puasa, karena jenis minuman seperti ini juga mengandung kafein. Meski untuk sesaat bisa memberikan sensasi segar, dalam jangka beberapa jam kemudian kafein akan menyebabkan sering kencing lalu dehidrasi karena selama puasa tidak boleh minum untuk menggantikan cairan yang keluar.

Hilangnya cairan tubuh saat berpuasa di siang hari tidak hanya terjadi saat kencing dan berkeringat. Dikutip dari Healthycan, Selasa (2/8/2011), cairan tubuh juga keluar dalam bentuk uap melalui permukaan kulit maupun rongga mulut dan lubang hidung saat bernapas dan berbicara.

Meski harus mencukupi kebutuhan cairan sepanjang hari, bukan berarti saat sahur dan berbuka harus minum air putih banyak-banyak. Air putih yang dikonsumsi memang harus banyak, tetapi tidak boleh sekaligus melainkan harus secara teratur dan bertahap sepanjang malam.

Tidak sulit untuk mengatur waktu minum di malam hari, yang penting jangan dipaksakan untuk minum terlalu banyak dalam waktu bersamaan. Sebagai contoh saat berbuka minum 2 gelas, sebelum tidur minum lagi dan seterusnya hingga terpenuhi kebutuhan untuk sehari yang jumlahnya kurang lebih 2 liter.

sumber : http://www.detikhealth.com/read/2011/08/02/190459/1695103/766/makan-buah-segar-saat-sahur-bisa-kurangi-risiko-dehidrasi?ld991107763

Puasa bukan alasan untuk tidak berolahraga. Meski sedang berpuasa, tubuh tetap membutuhkan latihan fisik agar tetap bugar. Namun sebaiknya perhatikan olahraga yang akan Anda lakukan, jangan sampai olahraga justru membuat kondisi tubuh menjadi lebih buruk.

“Orang yang mau berolahraga harus tahu tujuannya untuk apa. Kalau tujuannya olahraga untuk sehat, untuk hidup lebih baik, maka lakukan olahraga sesuai kemampuan tubuh. Kalau orang yang biasanya hanya ngantor, lalu ingin hidupnya lebih baik, maka mulailah dengan olahraga ringan karena tubuhnya kan belum siap,” ujar Dr. Michael Triangto, SpKO, Spesialis Kedokteran Olahraga di RS Mitra Kemayoran saat dihubungi detikHealth, Sabtu (6/8/2011).

Begitu juga dengan kondisi tubuh orang yang sedang berpuasa. Tidak semua olahraga baik dilakukan saat Anda berpuasa. Salah-salah, olahraga justru bisa membuat kondisi tubuh menjadi memburuk.

“Saya tidak mengatakan tidak boleh olahraga berat, tapi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh. Latihan berat boleh tapi sebaiknya di sore karena setelah itu kan kita berbuka,” lanjut Dr. Michael yang juga menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Kedokteran Olahraga, Litbang PB PBSI.

Untuk itu, Dr Michael memberikan beberapa tips untuk melakukan olahraga yang aman di bulan puasa:

Olahraga di pagi hari

Tentukan tujuan dari olahraga tersebut. Bila ditujukan untuk kesehatan dan kebugaran, sebaiknya dilakukan pada saat pagi hari setelah sahur dengan intensitas ringan, sehingga tidak memicu terjadinya dehidrasi dan kelelahan yang berlebihan saat siang hari yang berpotensi untuk mengurangi efektivitas kerja.
Karena intensitas latihan yang dilakukan itu ringan, tentunya hal ini tidak akan memberatkan bagi orang-orang yang sebelumnya tidak pernah berolahraga.
Lakukan olahraga pagi tersebut bersama dengan anggota keluarga lainnya sehingga tidak hanya diri kita sendiri yang seha,t namun juga kita mengajak orang lain untuk menjalani kebiasaan hidup sehat dan lebih mempererat hubungan kekeluargaan kita.

“Olahraga pagi itu sebaiknya olahraga ringan dan bersifat kekeluargaan, karena bisa dilakukan bersama-sama, sehingga secara mental memupuk rasa kekeluargaan,” jelas Dr Michael.

Menurut Dr Michael, contoh olahraga ringan yang dapat dilakukan di pagi hari antara lain:

Jalan cepat bersama keluarga
Olahraga permainan seperti bermain sepak bola di halaman rumah atau bulu tangkis, yang melibatkan lebih dari 1 orang.
Bersepeda bersama.

Olahraga sore hari

Bila tujuan kita adalah untuk tetap menjaga kekuatan dan bentuk otot yang telah terbentuk sebelumnya atau juga ingin melakukan olahraga yang lebih berat sebaiknya dilakukan sore hari menjelang saatnya berbuka. Alasannya, bila olahraga tersebut menimbulkan kehilangan cairan yang berlebihan tentunya akan lebih mudah tercukupi saat waktu berbuka. Selain itu kelelahan yang terjadi akibat menjalani latihan berat tersebut tidak akan menimbulkan kelelahan tubuh dan mengganggu performa kita dalam bekerja.
Latihan yang bersifat eksplosiv dengan beban yang berat biasanya dipakai untuk mengisi olahraga sore hari ini.
Intensitas latihan yang berat biasanya harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan dari masing-masing orang sehingga latihan sore hari ini biasanya lebih bersifat individual.

“Latihan sore hari biasanya lebih bersifat individual, jadi bisa lebih berat. Olahraga sore misalnya gym. Bagi orang yang terbiasa nge-gym, puasa bisa membuat ototnya kendur, maka olahraga di sore hari ini bisa tetap menjaga ototnya,” jelas Dr Michael.

Keamanan saat melakukan olahraga sangat ditekankan Dr Michael karena banyak kasus orang yang memaksakan diri untuk berolahraga namun pada saat kondisi tubuh sedang tidak siap, yang akhirnya dapat berakibat fatal.

“Saya mendapat kabar kalau salah satu pelatih senior mengalami serangan stroke haemoragic sesaat setelah menyelesaikan olahraganya. Badannya besar seperti Ade Rai. Katanya dia mengeluh badannya kurang enak dan mau cari keringat. Lalu dia berolahraga sepeda statis itu, tapi cukup berat dan keluar keringat banyak. Tiba-tiba kok tangannya nggak enak terus minta diurut. Eh terus kakinya juga nggak enak dan tiba-tiba jadi pelo,” jelas Dr Michael.

Untuk itu, Dr Michael menganjurkan agar orang selalu berhati-hati saat memulai berolahraga, terutama bila tubuh ‘terasa’ kurang sehat’.

“Orang yang berpuasa kan sering merasa tubuhnya ‘kurang sehat’. Intinya jangan dipaksakan dan tahu tujuan berolahraga. Bila badan sedang tidak sehat, lebih aman untuk memeriksakan diri terlebih dahulu ke dokter untuk memastikan segala sesuatu memang dalam keadaan baik,” tutup Dr Michael.

sumber : http://www.detikhealth.com/read/2011/08/06/160105/1698079/766/olahraga-yang-aman-di-bulan-puasa?l991101755

Selain menjalankan kewajiban yang harus ditunaikan umat Muslim di bulan Ramadan, puasa juga memberikan banyak manfaat kesehatan. Saat berpuasa memberikan tubuh kesempatan untuk melakukan detoksifikasi (membersihkan tubuh).

Detoksifikasi adalah proses normal tubuh untuk mengeliminasi atau menetralkan racun yang dihasilkan dari fungsi biokimia melalui usus, hati, ginjal, paru-paru, kelenjar getah bening, dan kulit.

Puasa dapat menjalankan proses ini karena ketika makanan tidak lagi memasuki tubuh, yang terakhir diubah menjadi energi adalah cadangan lemak.

Ketika cadangan lemak digunakan untuk energi selama berpuasa, mereka melepaskan bahan-bahan kimia yang disimpan dari asam lemak ke dalam sistem dan kemudian dieliminasi melalui organ-organ yang disebutkan di atas, seperti dilansir Pureinsideout, Senin (1/8/2011).

Manfaat lain dari puasa adalah memicu proses penyembuhan. Selama berpuasa, energi dialihkan dari sistem pencernaan, karena tidak ada makanan untuk memobilisasi terhadap metabolisme dan sistem kekebalan tubuh.

Inilah salah satu alasan mengapa hewan berhenti makan ketika terluka dan alasan mengapa manusia merasa tidak lapar ketika sedang sakit.

Puasa juga memicu penurunan berat badan dengan cepat. Setelah berada dalam mode puasa, tubuh menjadi terbiasa untuk bekerja tanpa makanan setelah beberapa hari.

Setelah berpuasa, perut sebenarnya menyusut dan dikembalikan ke ukuran normal. Orang-orang cenderung puas dengan sedikit makanan setelah berpuasa, sebagai sinyal terakhir untuk tubuh bahwa Anda telah mengubah cara makan.

Tapi hati-hati makan berlebihan setelah berpuasa, terutama jika Anda membuat tubuh lapar secara ekstrem. Hal ini bisa mengalahkan seluruh tujuan puasa dan juga manfaat yang seharusnya Anda dapatkan.

sumber : http://www.detikhealth.com/read/2011/08/01/070250/1693390/766/saat-puasa-saatnya-mendetoks-tubuh?ld991103763

Meski tidak makan seharian, puasa tidak boleh jadi alasan untuk lemas dan tidak bergairah saat bekerja. Pada sebagian orang, rasa letih dan mengantuk saat puasa muncul bukan karena tidak makan melainkan hanya karena tidak cukup tidur.

Bukan hanya waktu puasa, produktivitas yang menurun di tempat kerja hampir selalu bisa dihubungkan dengan pola tidur yang tidak teratur. Bedanya, pada hari-hari biasa rasa letih dan mengantuk bisa diatasi dengan minum kopi atau teh, maupun makan camilan.

Lain halnya ketika sedang berpuasa, seseorang tidak bisa minum kopi atau teh di siang hari sehingga rasa letih akan lebih terasa dibanding hari-hari biasa. Akibatnya banyak yang mengantuk di tempat kerja, meski kebanyakan mengira itu adalah efek dari seharian tidak makan.

“Dalam banyak kasus, orang mengantuk saat puasa bukan karena tidak makan tetapi karena kurang tidur saja. Sebenarnya asal cukup tidur dan polanya teratur, puasa tidak perlu jadi alasan untuk mengantuk,” ungkap pakar kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran, dr Andreas Prasadja, RPSGT saat dihubungi detikHealth, Minggu (31/7/2011).

Pendapat dr Ade, demikian ia biasa disapa, banyak benarnya terutama bagi yang kerjanya lebih banyak duduk di kantor dan hanya mengetik sepanjang hari. Meski berpikir juga butuh energi, namun kalori yang dibutuhkan tentu tidak sebanyak pekerjaan yang cenderung mengandalkan kekuatan fisik.

Karena itu dokter yang hobi memasak ini menyarankan, jika tidak ingin merasa lemas saat berpuasa maka usahakan agar tidur malamnya mencukupi baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Jika harus bangun pagi untuk penyiapkan makan sahur, malam harinya tidak boleh bergadang untuk keperluan yang tidak terlalu penting.

Kalaupun tidur malamnya tidak mencukupi, siang harinya bisa meluangkan waktu beberapa menit untuk melakukan power-nap, yakni tidur siang yang singkat tapi berkualitas. Sehabis salat siang misalnya, power-nap selama 20-30 menit sudah cukup untuk memulihkan energi.

“Power-nap tidak perlu lama-lama, yang penting cukup untuk me-recharge energi. Kalau terlalu lama malah tidak bagus, nanti bablas (tidak bangun-bangun) terus nggak jadi kerja. Tidur siang kalau terlalu lama kadang juga malah bisa pusing,” tambah dr Ade.

Terkait kebijakan untuk mengubah jam kerja seperti yang dilakukan banyak instansi pemerintahan maupun swasta, dr Ade menganggap hal itu tidak terlalu penting jika alasannya hanya supaya tidak letih. Seperti yang berulang kali ia tekankan, puasa tidak boleh jadi alasan untuk mengantuk.

Namun untuk keperluan yang lain misalnya agar punya lebih banyak waktu untuk melakukan kegiatan rohani atau berkumpul dengan keluarga, tentunya perubahan jam kerja masih bisa diterima. Yang penting menurut dr Ade, jadwal aktivitas dan pola tidur harus disesuaikan agar masing-masing bisa teratur dan tidak terlalu sering berubah-ubah.

“Baik puasa atau tidak, kurang tidur pasti mempengaruhi produktivitas kerja. Perlu diingat juga, hingga saat ini tidak ada satupun zat yag bisa menggantikan efek tidur. Kafein dan semacamnya hanya bisa menunda, pada saatnya rasa kantuk itu akan datang juga kalau tidurnya memang tidak cukup,” tegas dr Ade.

http://www.detikhealth.com/read/2011/07/31/160245/1693260/766/tak-ingin-lemas-saat-puasa-jaga-pola-tidur?l991101755