Posts Tagged ‘Al Quran’

Seorang seniman asal Iran, Raein Akbar Khanzadeh berhasil menyalin Alquran ke dalam dua lembar perak dan platinum. Lembaran-lembaran itu disusun dengan 2500 batu permata 20 karat, serta 10 karat batu rubi dan safir. Alquran salinan bertahta batu permata ini memiliki berat 6 kg.

Khanzadeh berhasil menyelesaikan proyek ini dalam waktu 10 bulan. Dia tidak meminta sponsor dari pihak manapun untuk menyelesaikan proyeknya itu. Khanzadeh menghabiskan uang 150 ribu dirham miliknya sendiri untuk membeli berbagai perlengkapan yang dibutuhkan.

Menurutnya Alquran bukanlah alat untuk mencari keuntungan oleh karena itu kesuciannya harus dijaga.

“Saya tidak mencari sponsor kali ini dan saya menghabiskan semua yang saya peroleh dari proyek sebelumnnya. Sponsor mengarah pada komersialisasi dan saya tidak menyukai itu. Kita harus menghormati kesucian Alquran dan tidak menggunakannya untuk mencari uang,” papar Khanzadeh, sebagaimana dikutip dari Al Arabiya News, Jumat (3/8/2012).

Khanzadeh memiliki bakat luar biasa yang dibawa sejak lahir. Dia mampu membaca dan menulis huruf berukuran 30 kali lebih kecil dibanding ukuran normal dengan mata telanjang.

Selama 12 tahun dia telah menjalani profesi ini. Bakat yang dia miliki didedikasikan untuk kepentingan Islam. Setiap tahunnya, dia berhasil menyalin Alquran dengan rekor baru yang belum ada sebelumnya.

Tahun ini dia juga telah menampilan salinan Alquran yang terdiri dari 114 bab dan mencakup 604 halaman. Lembaran-lembaran itu berasal dari perak dan berukuran lebih kecil dibanding kertas A4.

Pada awalnya, Khanzadeh merasa khawatir jika penglihatannya akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Namun rasa khawatirnya itu menghilang karena semakin hari penglihatannya justru semakin tajam terlebih lagi untuk membaca Alquran.

Raein Akbar Khanzadeh adalah seorang muslim yang taat. Dia lulus dari perguruan tinggi dengan gelar studi Alquran dan Matematika. Beberapa tokoh penting menjadi pelanggan setia bagi karya-karyanya yaitu Shaikh Hamdan Bin Mohammad Bin Rashid Al Maktoum, putra mahkota Dubai dan Ketua Dewan Eksekutif Dubai.

Semua karyanya telah diverifikasi oleh Otoritas Umum UEA Urusan Islam. Karyanya terbukti detil dan tidak terdapat kesalahan. Dalam bekerja Khanzadeh tidak menggunakan mikroskop untuk membantu penglihatannya.

http://ramadan.detik.com/read/2012/08/03/161518/1982692/631/subhanallah-seniman-iran-mampu-salin-alquran-di-atas-batu-permata?992204cbr

Alquran Al-Karim adalah pedoman hidup umat manusia, walaupun yang mengambil manfaat hanyalah orang-orang yang bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 2). Begitu banyak hikmah dari memperbanyak membaca Alquran.

Pertama, mendapatkan pahala yang sangat banyak, di mana satu huruf diberi balasan dengan sepuluh kebajikan, sebagaimana diriwayatkan oleh Iman At-Tirmidzi dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. Kita tahu bahwa seluruh Alquran, menurut sebuah literatur berjumlah 325.015 huruf, yang berarti satu kali khatam Alquran mendapatkan nilai pahala kebajikan kelipatan sepuluh, yakni 3.250.150.

Tentu untuk meraihnya, kita harus berusaha memperbanyak membaca Alquran. Baik sebulan sekali, dua bulan sekali, atau bahkan tiga bulan sekali. Bahkan banyak di antara ulama Alquran yang mampu mengkhatamkan Alquran setiap seminggu sekali.

Kedua, Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang selalu membaca Alquran, mempelajari isi kandungannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab Alquran dan Allah merendahkan kaum yang lainnya (yang tidak mau membaca, mempelajari dan mengamalkan Alquran).” (HR Bukhari).

Secara logika dapat kita pahami, mengapa orang-orang yang membaca dan mempelajari isi kandungan Alquran dan berusaha mengamalkannya diangkat derajatnya oleh Allah SWT? Orang-orang yang membaca Alquran berarti orang-orang yang selalu dekat dengan Allah, bahkan membaca Alquran merupakan bercakap-cakap dengan Allah SWT.

Ketiga, mendapatkan ketengan jiwa atau hati yang sangat luar biasa, di mana setiap ayat Alquran yang dibacanya akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman bagi para pembacanya. Sebagaimana diterangkan dalam surah Al-Isra [17] ayat 82, Alquran diturunkan Allah SWT untuk menjadi obat segala macam penyakit kejiwaan. Sehingga para pembaca Alquran, bahkan orang yang mendengarkan bacaannya mendapat pula ketenangan jiwa.

Keempat, mendapatkan syafaat (pertolongan) pada hari Kiamat. Hal ini dijelaskan pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim. “Bacalah Alquran oleh kamu sekalian, karena bacaan Alquran yang dibaca ketika hidup di dunia ini, akan menjadi syafaat/penolong bagi para pembacanya di hari Kiamat nanti.”

Maka perbanyaklah membaca Alquran ketika nafas masih menyertai kita dan denyut jantung masih bergerak, karena bacaan Alquran akan menjadi syafaat/penolong bagi para pembacanya di hari Kiamat nanti, dikala manusia banyak yang sengsara dan menderita.

Kelima, akan terbebas dari aduan Rasulullah SAW pada hari Kiamat nanti, di mana ada beberapa manusia yang diadukan Rasulullah SAW pada hari Kiamat dihadapan Allah SWT.

Jadi, perbanyaklah membaca Alquran, luang waktu sisa-sisa kehidupan yang Allah berikan untuk memperdalam ajarannya. Jangan disia-siakan, karena Alquran akan mengantarkan kemudahan kita ketika menghadap Allah SWT (sakaratul maut).

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/07/23/m7luhc-inilah-5-keutamaan-membaca-alquran

Tentang Do’a

Posted: 11 Oktober 2011 in Artikel
Tag:, , , , ,

Do’a adalah hal yang sangat sering kita dengar, secara makna, do’a yang berasal dari da’a memiliki makna, mengharapkan kehadiran sesuatu atau mengharapkan kebaikan. Sedangkan secara umum, do’a berarti memohon, mengharap, meminta kepada Allah. Dalam Al Quran Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdo’a kepada Allah, hal ini sebagaimana dinyatakan melalui ayat ;
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (40:60)
Setidaknya, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui, dan menjadi resep agar do’a kita terkabul.

Beberapa hal itu adalah ;

1. Memenuhi perintah-Nya
Hal ini kalimat yang sering kali dibaca pada saat shalat melalui surat al fatihah ;
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”.(1:5)

Hal ini ditegaskan pada ayat lain ;

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah
dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah ereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”
(2:186)

Beribadah kepada Allah melalui dua ayat diatas adalah syarat mutlak dikabulkannya do’a. Tanpa ibadah kepada Allah, mustahil do’a itu akan dikabulkan, hal ini sebagaimana hadits Rasulullah saw.
Dari Abu Hurairah ; Rasulullah menuturkan tentang seorang lelaki yang telah mengadakan perjalanan panjang sehingga kelihatan berwajah kotor lagi berambut lusuh. dia mengangkat tangan tinggi-tinggi ambil berdoa; “Ya Tuhan, Ya Tuhan”, sementara makanan yang dimakan dari barang haram, minuman yang diminum dari barang haram, pakaian yang dipakai dari barang haram dan makan pagipun dari makanan yang haram. Bagaimana doanya dapat dikabulkan ?” (HR : Muslim dan Tirmidzi)

Kedua hal ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa, ada persyaratan yang harus dipenuhi agar doa dapat dikabulkan.

Jika kita ambil perumpamaan sederhana, seperti seorang direktur dan karyawannya. Jika sang karyawan telah melakukan tugasnya dengan baik, maka direktur akan dengan senang hati memberikan apa yang diminta oleh karyawannya. Semakin tinggi jabatan seorang karyawan, maka semakin mudahlah dirinya mendapat jawaban dari sang direktur tersebut ketika ia meminta. Semakin jauh kedudukan karyawan itu dengan sang direktur, maka akan permintaannya pasti akan dikabulkan, tetapi hal itu tentunya membutuhkan waktu, atau bahkan mungkin permintaannya itu tidak pernah dikabulkan, karena karyawan tersebut tidak pernah memenuhi tugas dari sang direktur.

Sama halnya dengan kedekatan seorang hamba kepada Allah, semakin dekat dirinya dengan Allah, maka akan semakin cepat di ijabahlah setiap doa atau permohonannya, demikian pula ketika seorang hamba semakin jauh kedudukannya dengan Allah, maka doa pasti akan dikabulkan, tetapi boleh jadi waktu terkabulnya doa itu akan semakin lama. Sehingga kita bisa memahami, semua doa akan dikabulkan, tetapi salah satu faktor penghalang dari dikabulkannya doa itu adalah, tingkat kemaksiatan sang hamba itu sendiri.

Dalam konteks ini, kita bisa memahami, doa para Nabi, Rasul, malaikat, adalah doa yang dengan mudah dikabulkan oleh Allah, hal ini tentunya disebabkan karena mereka telah melaksanakan perintah Allah terlebih dahulu dengan sebaik-baiknya, lalu kemudian mereka berdoa kepada Allah. Banyak sekali Allah mengabadikan doa para Nabi dan Rasul dalam Al Quran yang tentunya hal itu sudah dikabulkan oleh Allah.

Wallahua’lam …

http://new.drisalah.com/index.php/inspirasi/32-tentang-doa.html

Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Quran, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbitnya atau garis edarnya masing-masing.

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS Al-Anbiyaa: 33).

Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu: “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS Yasin :38).

Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al Quran ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu kilometer per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex.

Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.

Sebagaimana komet-komet lain di alam raya, seperti komet Halley juga bergerak mengikuti orbit atau garis edarnya yang telah ditetapkan. Komet ini memiliki garis edar khusus dan bergerak mengikuti garis edar ini secara harmonis bersama-sama dengan benda-benda langit lainnya.

Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini dinyatakan dalam Al Quran sebagai berikut: “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.” (QS Adz-Dzaariyat: 7).

Terdapat sekitar 200 miliar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti.

Selama jutaan tahun masing-masing seolah ‘berenang’ sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.

Semua benda langit termasuk planet, satelit yang mengiringi planet, bintang dan bahkan galaksi, memiliki orbit atau garis edar mereka masing-masing. Semua orbit ini telah ditetapkan berdasarkan perhitungan yang sangat teliti dengan cermat. Yang membangun dan memelihara tatanan sempurna ini adalah Allah, pencipta seluruh sekalian alam.

Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.

Dapat dipastikan bahwa pada saat Al Quran diturunkan manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer. Tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Karenanya saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa ‘dipenuhi lintasan dan garis edar’ sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Akan tetapi hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita dalam Al Quran yang diturunkan pada saat itu: karena Al Quran adalah firman Allah.

http://id.custom.yahoo.com/ramadan/artikel-article/salah-satu-mukjizat-al-quran-958

Hukum Shalat Tarawih

Posted: 24 Agustus 2010 in Artikel
Tag:, ,

JUMHUR ulama menyatakan, hukum salat tarawih itu sunnat muakkad karena demikian besar pahalanya. Umat Islam mengamalkannya dengan sungguh-sungguh dan hampir tidak ada orang yang meninggalkannya, kecuali ada halangan.

Sunnat muakkad, yakni sunah yang sangat dianjurkan mendekati kepada hukum wajib. Di antara hikmah salat tarawih untuk penghapusan dosa yang telah lalu dan dosa yang kemudian. Lazaf dosa termasuk dosa besar dan dosa kecil. Dosa yang diampunkan adalah dosa kecil, sebab dosa besar berhajat/berkehendak pada taubat dan penyelesaian serta berjanji tidak mengulangi lagi perbuatan itu. Namun, jika Allah SWT menghendaki untuk mengampunkan dosa hambanya dapat saja semua dosa hambanya yang besar maupun yang kecil diampunkan-Nya.

Tidak keratan bagi Allah untuk mengampuni dosa hamba-Nya. Dari Abu Hurairah, bahwa dia berkata: ’’Rasulullah SAW mendorong mereka untuk mendirikan salat malam di bulan Ramadhan tanpa benar-benar memerintahkannya.’’ Kemudian beliau berkata: “Barang siapa yang mendirikan Qiyam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Kemudian keadaan ini berlanjut di massa Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar bin Khatab.

Hadis kedua dari Amr bin Murrah al Juhane dia berkata: “Seorang laki-laki dari Quda’ah mendatangi Rasulullah SAW dan berkata kepadanya: ’Ya Rasulullah, bagaimana menurutmujikaakubersaksibahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan jika aku salat lima waktu dan berpuasa dan salat malam di bulan Ramadhan, dan membayar zakat?’ Nabibersabda: ’Barang siapa yang melakukan demikian, akan berada di antara para shiddiqindan syahada’.’’ (*)

Oleh: Prof Dr H Abdullah Syah MA
Ketua MUI Sumut
dari ramadan.okezone.com

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri Sam kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, siapapun boleh menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan seorang guru tersebut. “Anda siapa? Dan apakah anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?”

Pemuda bertanya. “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan saudara.” Jawab Guru Agama. “Anda yakin? sedangkan Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.” Jawab Guru Agama “Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya” Pemuda : “Saya punya 3 pertanyaan;

1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan kewujudan Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dimaksudkan dengan takdir?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api?, tentu tidak menyakitkan buat syaitan, sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”

Tiba-tiba Guru Agama tersebut menampar pipi si Pemuda dengan kuat. Sambil menahan kesakitan pemuda berkata “Kenapa anda marah kepada saya?” Jawab Guru Agama “Saya tidak marah … Tamparan itu adalah jawaban saya kepada 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya”.

“Saya sungguh-sungguh tidak faham”, kata pemuda itu. Guru Agama bertanya “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. “Tentu saja saya merasakan sakit”, jawab beliau. Guru Agama bertanya ” Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?”. Pemuda itu mengangguk tanda percaya. Guru Agama bertanya lagi, “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!” “Tentu saja saya tidak bisa”, jawab pemuda. “Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.” Terang Guru Agama. Guru Agama bertanya lagi, “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”. “Tidak” jawab pemuda. “Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?” “Tidak” jawab pemuda. “Itulah yang dinamakan Takdir” Terang Guru Agama. Guru Agama bertanya lagi, “Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”. “kulit”. Jawab pemuda. “Pipi anda diperbuat dari apa?” “ Kulit “ Jawab pemuda. “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. “Sakit.” Jawab pemuda. “Walaupun Syaitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk syaitan.” Terang Guru Agama.

sumber : sunatullah.com

Terbitnya matahari dari timur dan terbenam di barat merupakan sunnatullah terhadap alam semesta, akan tetapi hikmah Allah yang bijak telah berkehendak untuk menjadikan terbitnya matahari dari barat sebagai salah satu tanda yang jelas akan datangnya Kiamat.
Terbitnya matahari dari barat –sama dengan tanda-tanda Kiamat yang lain– adalah perkara yang telah ditetapkan oleh al-Kitab, sunnah dan ijma’.
Firman Allah, “Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelumnya atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (QS. Al-An’am: 158).
Jumhur ahli tafsir telah menyepakati bahwa sebagian tanda-tanda di dalam ayat itu adalah terbit matahari dari arah barat.
Adapun sunnah maka hadits riwayat Muslim nomor 2942 dan Abu Dawud nomor 4310 dari Abdulah bin Amru bin Ash berkata, “Saya menghafal dari Rasulullah saw sebuah hadits yang tidak pernah aku lupakan, saya mendengarnya bersabda, ‘Sesungguhnya tanda Kiamat yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari barat, keluarnya binatang bumi kepada manusia di waktu dhuha. Apa pun yang muncul terlebih dahulu maka yang lain akan segera menyusul di belakangnya.”
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Bersegeralah beramal sebelum datangnya enam perkara: terbitnya matahari dari barat, dukhan, Dajjal, binatang bumi, teman khusus kalian dan urusan umum.” (HR. Muslim nomor 2947). Hisyam bin Amir berkata, “Teman khusus adalah kematian.” Qatadah berkata, “Urusan umum adalah Kiamat.”
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Kiamat tidak datang sehingga matahari terbit dari barat. Jika manusia melihatnya maka mereka semua beriman.”
Dalam riwayat lain, “Jika matahari telah terbit dari arah barat dan orang-orang melihatnya, maka mereka semua beriman. Pada saat itu iman seseorang tidak lagi berguna untuk dirinya selama dia belum beriman sebelumnya atau memperoleh kebaikan dalam imannya.” (HR. al-Bukhari 7/190 dan Muslim nomor 157)
Umat Islam secara keseluruhan telah ber-ijma’ bahwa terbitnya matahari dari barat adalah salah satu tanda Kiamat kubro berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan jelas begitu pula al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi saw.
Apabila matahari telah terbit dari barat maka iman yang terjadi pada hari itu tidaklah berguna bagi orang yang sebelumnya musyrik atau kafir, tidak pula taubat yang dilakukan pada waktu itu bagi orang yang beriman tetapi sebelumnya dia melakukan kemaksiyatan, kebaikan yang dilakukan sesudah itupun tidaklah berguna. Imannya yang terdahulu menjaganya dari kekekalan di dalam Neraka, jika dia masuk ke dalamnya maka karena dosa-dosanya. Adapun pemilik iman terdahulu, tetapi tidak murni, maka imannya berguna untuk dirinya begitu pula amal-amal yang menyertainya yang dikerjakannya. Yang ditolak adalah taubatnya saat itu dari imannya yang bercampur dengan kemaksiatan, begitu pula orang yang sebelumnya tidak beriman dan beramal shalih, maka iman dan amal shalih yang tiba-tiba dilakukan pada saat itu tidaklah diterima.
Adapun orang mukmin yang telah bertaubat dari kemaksiyatan dan telah mengerjakan kebaikan semampunya, maka imannya ini berguna baginya demi keselamatannya dan amal shalihnya berguna baginya demi derajatnya dan kebaikan yang dia kerjakan setelah itu, di mana sebelumnya dia telah melaksanakannya, ia juga berguna baginya.
Allamah Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah menjelaskan alasan ditolaknya iman pada hari itu, dia berkata, “Para ulama berkata, ‘Iman tidak berguna bagi pemiliknya pada waktu matahari terbit dari barat karena ketakutan hebat yang menyelimuti hatinya. Di mana ketakutan ini memadamkan semua syahwat jiwa dan meluruhkan seluruh kekuatan tubuh. Maka seluruh manusia –karena mereka telah yakin Kiamat di ambang pintu– menjadi seperti orang di mana kematian telah berada di pelupuk mata. Dalam kondisi demikian dorongan-dorongan kepada kemaksiyatan telah hilang dan luruh dari mereka. Maka barangsiapa bertaubat dalam kondisi ini maka taubatnya tidak diterima sebagaimana taubat orang yang maut telah berada di pelupuk matanya’.”
Hafizh Ibnu Katsir dalam An-Nihayah berkata, “Hadits-hadits yang mutawatir ini bersama ayat yang mulia merupakan dalil bahwa siapa yang baru beriman dan bertaubat pada saat matahari terbit dari barat maka ia tidak diterima darinya. Hal itu demikian –wallahu a’lam– karena ia adalah tanda Kiamat terbesar yang menunjukkan kedekatannya, maka hari itu diperlakukan seperti hari Kiamat.
Firman Allah, “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu.” (QS. Al-An’am: 158).
Firman Allah, “Maka tatkala mereka melihat adzab Kami, mereka berkata, ‘kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah’. Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.” (QS. Al-Mu’min: 84-85).
Firman Allah, “Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari Kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya.” (QS. Az-Zukhruf: 66). Wallahu a’lam.

sumber : sunatullah.com