Archive for the ‘Cerpen’ Category

Pada suatu hari ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Sampailah mereka pada suatu hari di desa Nasrudin. Orang-orang desa ini menyodorkan Nasrudin sebagai wakil orang-orang yang bijak di desa masing-masing. Nasrudin dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu dan di sekeliling mereka berkumpullah orang-orang desa menonton mereka bicara.

Orang bijak pertama bertanya kepada Nasrudin, “Di mana sebenarnya pusat bumi ini?”

Nasrudin menjawab, “Tepat di bawah telapak kaki saya, saudara”.

“Bagaimana bisa saudara buktikan hal itu?” tanya orang bijak pertama tadi.

“Kalau tidak percaya, ukur saja sendiri,” cetus Nasruddin. Orang bijak yang pertama diam tak bisa
menjawab.

Tiba giliran orang bijak kedua mengajukan pertanyaan. “Berapa banyak jumlah bintang yang ada di langit?”

Nasrudin menjawab, “Bintang-bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama dengan rambut yang tumbuh di keledai saya ini”.

“Bagaimana saudara bisa membuktikan hal itu?”

Nasrudin menjawab, Nah, kalau tidak percaya, hitung saja rambut yang ada di keledai itu, dan nanti saudara akan tahu kebenarannya.”

“Itu sih jawaban bodoh,” tanya orang bijak kedua, “Bagaimana orang bisa menghitung bulu keledai.”

Nasrudin pun menjawab, “Nah, kalau saya bodoh, kenapa Anda juga mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang bisa menghitung bintang di langit?” Mendengar jawaban itu, si bijak kedua itu pun tidak bisa melanjutkan.

Sekarang tampillah orang bijak ketiga yang katanya paling bijak di antara mereka. Ia agak terganggu oleh kecerdikan Nasrudin dan dengan ketus bertanya, “Tampaknya saudara tahu banyak mengenai keledai, tapi coba saudara katakan kepada saya berapa jumlah bulu yang ada pada ekor keledai itu.”

“Saya tahu jumlahnya,” jawab Nasrudin, “Jumlah bulu yang ada pada ekor kelesai saya ini sama dengan jumlah rambut di janggut Saudara”.

“Bagaimana Anda bisa membuktikan hal itu?” tanyanya lagi. “Oh, kalau yang itu sih mudah. Begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekor keledai saya, dan kemudian saya mencabut sehelai rambut dari janggut saudara. Begitu sampai habis. Nah, kalau habisnya sama, maka apa yang saya katakan itu benar, tetapi kalau tidak, saya keliru.”

Tentu saja orang bijak yang ketiga itu tidak mau menerima cara menghitung seperti itu. Dan orang-orang desa yang mengelilingi mereka itu semakin yakin Nasrudin adalah yang tercerdik.

http://ramadan.detik.com/read/2012/08/01/142137/1980434/630/nasruddin-dan-tiga-orang-bijak

Iklan

Sebuah kisah menceritakan hidup seorang perempuan tua dengan suaminya. Perempuan tua itu taat beragama, sedangkan suaminya seorang yang fasik dan tidak mau mengerjakan kewajiban agama, apalagi enggan berbuat kebaikan.

Sebuah kebiasaan terpuji dilakukan perempuan ini. Dia senantiasa membaca basmalah setiap kali melakukan sesuatu. Namun kebiasaan baik ini malah tidak disukai sang suami. Suaminya merasa kesal dengan sikap istrinya bahkan sering memperolok-oloknya. “Sebentar-sebentar bismillah, seperti tidak ada ucapan lain saja” ejek suaminya. Istrinya bergeming. Dia hanya berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar memberikan hidayah bagi suaminya.

Suatu hari suaminya berkata, “Suatu saat, kau akan kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu!”. Rupanya sang suami mempunyai ide jahat. Dia ingin menmperdayakan istrinya dengan memberi uang banyak, lalu akan diambilnya kembali secara diam-diam. Tidak lain, sang suami ini ingin mencelakai istrinya.

“Simpanlah uang ini, jangan sampai hilang apalagi berkurang!” perintahnya. Istrinya mengambil uang itu, dan menyimpannya di tempat yang paling aman dan rahasia. Namun hal itu diketahui sang suami. Diam-diam, suatu saat si suami mengambil yang disimpan istrinya, dan membuangnya dalam sebuah tong di belakang rumah.

Setelah beberapa hari, suami memanggil istrinya dan bertanya, “Mana uang yang aku berikan dahulu? Kini aku membutuhkannya!” pinta suami. Kemudian sang istri pergi ketempat penyimpanan uang itu, si suami pun mengikutinya dari belakang. Dengan berhati-hati ia menghampiri tempat penyimpanan uang, dan mulai membukanya seraya mengucap basmalah, “Bismillahirahmanirrahim…”

Di luar dugaan, sebuah mukjizat terjadi. Allah Mahat Tahu dan tidak pernah tidur. Saat itulah Allah mengutus Malaikat JIbril untuk mengembalikan uang suaminya ke tempat semula. Sehingga perempuan tua yang taat beribadah itu bisa mengembalikan uang kepada suaminya.

Alangkah terkejutnya sang suami menyaksikan uangnya masih utuh, padahal ia telah mengambilnya. Diapun merasa bersalah dan mengakui segala perbuatannya kepada sang istri. Saat itu juga ia bertobat dan berjanji akan segera mengerjakan semua perintah agama, termasuk membaca basmalah setiap sebelum melakukan sesuatu.

http://ramadan.detik.com/read/2012/07/22/063901/1971431/630/keajaiban-basmallah?r992202625

“Mana mama..?” Bu Euis bertanya dengan lembut pada Zahra kecil yang manis berkerudung dengan renda indah namun nampak jelas bahwa kerudung itu terstrika dengan asal-asalan alias tidak licin. Namun kemanisan wajah Zahra yang berusia 7 tahun tidak mengurangi keinginan Bu Euis untuk menjawil pipinya sedikit.

Zahra memang anak yang manis, dan berperangai lembut, dia suka menyendiri dan bercakap-cakap sendiri entah dengan siapa di pojok kelas. Menurutnya di rumah juga bila semua orang sibuk, “aku sudah bisa mengajak semua benda becakap-cakap, ada pintu yang besar dan gagah dan melindungiku dengan tertutup kuat, ada juga tempat tidur berseprai putih yang membuatku nyaman dan selimut yang menutupiku dikala aku kedinginan. Selain itu ada juga boneka-boneka yang pastinya berbicara dan berdansa sendiri bila malam hari aku tidur, maka itu Bu Euis aku tidur cepat, seperti yang bu Euis sarankan, yaitu setelah sholat Isya, agar Zahra bisa memberi kesempatan bagi semua mainannya untuk bangun, main dan berkeliling ruangan ketika Zahra sudah tertidur.”

Zahra yang lembut hati, ingin semua mainannya memiliki kebebasan seperti dirinya, sungguh sebuah impian anak-anak, namun ada nilai positif dalam dirinya, yaitu: ingin berbagi pada yang lain.

Bu Euis maklum dan hanya tersenyum mendengar cerita Zahra. Maklum karena Zahra adalah anak tunggal tak ada saudara, kakak maupun adik. Oh ya, Zahra juga sholat Isya berjamaah dengan mainan mobil-mobilan abang yang besar, boneka beruang dan boneka kelinci yang buntutnya sudah lepas, kemarin Zahra lem buntutnya dengan selotip.

Zahra, tidak punya siapa-siapa dirumah, mbok juga terlalu tua dan senangnya di dapur dan setelah selesai mengerjakan ini dan itu, mbok senangnya masuk kamar, kata mbok tulang mbok sakit jadi mbok senangnya dikamar yang kecil dan bau balsam. Tangan mbok juga gak enak kalau megang mainan Zahra atau bersihkan kamar, maka semuanya jadi bau bawang.

Ayah dan ibu sibuk, hari biasa pulang malam, hari libur ada pengajian, bahkan arisan, undangan dan Zahra jarang diajak, karena acaranya buat orang dewasa semua. Ibu hanya mencium sesekali dan Ayah lebih banyak diam, ayah dan ibu tidak pernah marah, jangankan marah, ngomong saja juga jarang, sibuk sekali dengan laptop, blackberry dan handphone yang menyala terus-menerus.

“Kadang-kadang, Zahra pengen disulap jadi laptop, agar ayah sering melihat dan membawa Zahra kemana-mana, haha..” Zahra tertawa sendiri. Dan Bu Euis mengerjapkan matanya dan menahan haru dihati, ketika membaca keinginan Zahra yang simple namun mengharukan.

Ketika itu ada pelajaran Bahasa Inggris, dan semua murid diminta menulis apa saja keinginanya dalam Bahasa Inggris sebanyak maksimal 3 kalimat. Dan kalau ada kata yang salah kata akan dibantu oleh Bu Euis, “jadi tulis saja kalau salah tidak apa apa,” demikianlah Bu Euis yang pandai memotivasi anak-anak untuk percaya diri dalam berbahasa Inggris. Bu Euis berlinang air matanya tanpa dapat dicegah, ketika Zahra mengungkapkan keinginannya untuk menjadi sebuah laptop,“ I wish to be a laptop, to make me close to ayah, and ayah will bring me everywhere.” Zahra yang cantik ingin menjadi laptop. Agar bisa dekat dengan ayah dan dibawa kemana-mana, dilihat dengan lama, dan dibersihkan bila ada debu.

Ah, Zahra, bila ayahmu tahu, bahwa dirimu lebih berharga dari sebuah laptop, maka akan dicampakkan olehnya barang mahal itu, demi menatap anaknya lebih lama, karena dia tahu betapa berharga anaknya, yang ditangannya ada do’a dan di dalam dirinya terdapat amal jariyah.

http://jisc.eramuslim.com/wp/ketika-zahra-kecil-ingin-menjadi-sebuah-laptop/

Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang
baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk
berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan
suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si
ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak, apakah benda tersebut?”
“Burung gagak”, jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian
mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka
ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab
dengan sedikit keras,
“Itu burung gagak ayah!”
Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang
sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama
dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras,
“BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama
kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama
sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan
menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab
pertanyaan si ayah,
“Gagak ayah…….”.
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian
si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan
pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar
kehilangan kesabaran dan menjadi marah.
“Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah
lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun
sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya
katakan???? Itu burung gagak, burung gagak ayah…..”, kata si anak
dengan nada yang begitu marah.
Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah
meninggalkan si anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian
si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia
mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan
bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah diari lama.
“Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam buku diary
itu”, pinta si ayah.
Si anak taat dan membaca bagian yang berikut……….
“Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur
lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku
terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya,
“Ayah, apakah itu?”.
Dan aku menjawab, “Burung gagak”.
Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang
sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama.
Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta
dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan
ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu
pendidikan yang berharga.”
Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat
muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah
dengan perlahan bersuara,
“ Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang
sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran
dan marah.”
……………………
HIKMAH : JAGALAH HATI KEDUA IBU DAN BAPA, HORMATILAH
MEREKA. SAYANGILAH MEREKA SEBAGAI MANA MEREKA
MENYAYANGIMU DIWAKTU KECIL

============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 384-385. ISBN 978-6028-686-938.
http://www.facebook.com/pages/Mutiara-Kalbu-Sebening-Embun-Pagi/116810518359465

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri Sam kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, siapapun boleh menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan seorang guru tersebut. “Anda siapa? Dan apakah anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?”

Pemuda bertanya. “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan saudara.” Jawab Guru Agama. “Anda yakin? sedangkan Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.” Jawab Guru Agama “Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya” Pemuda : “Saya punya 3 pertanyaan;

1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan kewujudan Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dimaksudkan dengan takdir?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api?, tentu tidak menyakitkan buat syaitan, sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”

Tiba-tiba Guru Agama tersebut menampar pipi si Pemuda dengan kuat. Sambil menahan kesakitan pemuda berkata “Kenapa anda marah kepada saya?” Jawab Guru Agama “Saya tidak marah … Tamparan itu adalah jawaban saya kepada 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya”.

“Saya sungguh-sungguh tidak faham”, kata pemuda itu. Guru Agama bertanya “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. “Tentu saja saya merasakan sakit”, jawab beliau. Guru Agama bertanya ” Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?”. Pemuda itu mengangguk tanda percaya. Guru Agama bertanya lagi, “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!” “Tentu saja saya tidak bisa”, jawab pemuda. “Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.” Terang Guru Agama. Guru Agama bertanya lagi, “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”. “Tidak” jawab pemuda. “Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?” “Tidak” jawab pemuda. “Itulah yang dinamakan Takdir” Terang Guru Agama. Guru Agama bertanya lagi, “Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”. “kulit”. Jawab pemuda. “Pipi anda diperbuat dari apa?” “ Kulit “ Jawab pemuda. “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. “Sakit.” Jawab pemuda. “Walaupun Syaitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk syaitan.” Terang Guru Agama.

sumber : sunatullah.com

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Fulani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya. Fulani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan “Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915: 20- 01-1965” “Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo’a untuk nenekmu” Fulani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk Neneknya… “Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah.” Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya. “Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah…” Kata Fulani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. “Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun … ” Fulan memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910” “Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah”, jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. “Memangnya kenapa ndhuk ?” kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. “Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka” kata Fulani sambil meminta persetujuan ayahnya. “Iya kan yah?” Ayahnya tersenyum, “Lalu?” “Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur …. Ya nggak yah?” mata Fulani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ….. “Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek. Pulang dari pemakaman, ayah Fulani tampak gelisah Di atas sajadahnya, mem apa yang dikatakan anaknya… 42 tahun hingga sekarang… kalau kiamat datang 100 tahun lagi…142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur …. Lalu Ia menunduk … Meneteskan air mata… Kalau Ia meninggal .. Lalu b anyak dosanya …lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi WA inna ilaihi rooji’un …. Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi? Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan? Ya Allah… Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur…. air matanya semakin membanjiri jenggotnya Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak … Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Fulani . Dihampirinya Fulani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya selimutnya. Fulani terus tertidur…. tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan… Dan apa yang akan datang di depannya… “Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku…” Sebarkan artikel ini ke saudara-saudara Kita, mudah-mudahan bermanfaat.. . “Sebarkanlah walau hanya 1 ayat” Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

taken from : banjar-jabar.go.id

Saat itu adalah bulan Muharram tahun 1424 H. Seorang pria bernama Mamat yang bekerja di Bandara Soekarno-Hatta sedang sibuk mengangkat koper-koper penumpang. Koper bukan sembarang koper. Semua koper yang baru saja dibongkar dari pesawat Saudia Airlines itu memiliki kesamaan; berbentuk besar, berwarna biru tua dan bertuliskan nama pemilik, nomer kloter dan asal kota.
Koper-koper tersebut adalah milik jemaah haji yang baru saja selesai menunaikan ibadah haji di Tanah Suci pada tahun itu.

Setiap kali mengangkat satu koper, Mamat selalu membaca basmalah dan shalawat kepada Rasulullah Saw. Sudah berpuluh koper yang ia angkat, hingga rasa itu muncul di dadanya. Pada kali selanjutnya, tatkala tangannya menggamit pegangan koper, ia sempat membaca doa kecil kepada Allah Sang Penguasa alam di dalam hatinya, źa Allah, kapan saya mengangkat koperku sendiri seperti ini…?!¡¦Sebenarnya yang ia maksud adalah ia begitu berharap dapat berangkat haji ke Baitullah. Rupanya Allah mendengar jeritan hati Mamat. Hanya selang 4 bulan saja, Subhanallah, namanya keluar sebagai salah seorang dari 17 orang pegawai yang mendapatkan jatah naik haji tahun itu atas biaya kantor. Mamat pun amat bersyukur kepada Allah TaÃÂla karenanya.

Namun kebahagiaan ini tidak serta-merta membuat Mamat puas hati. Ia tahu bahwa berita ini boleh jadi akan membuat Iis, istrinya bersedih. Sebab hanya dia saja yang dapat berangkat naik haji, padahal mereka berdua selalu berdoa kepada Allah Swt agar dapat berangkat naik haji bersama-sama. Maka tatkala menyampaikan berita ini pun, Mamat amat hati-hati dalam mengemasnya. Å´emoga tidak ada bahasa yang terpeleset dan melukai hati¡¦ itulah harapan Mamat.

“Is…. Akang minta maaf ya sama kamu…¡”Mamat mencoba membuka percakapan dengan meminta maaf terlebih dahulu. Ŧmangnya ada apa, Kang?¡¦sang istri bertanya. “Akang ingin beritahukan sesuatu ke kamu, tapi kamu jangan marah ya… apalagi sedih…?¡¦sambut Mamat. Kalimat itu membuat Iis menjadi gelisah. Ia coba tenangkan hati untuk mendengar berita gak enak ini. Mamat pun kemudian menyambung kalimatnya dengan nada hati-hati, “Is… Akang hari ini mendapat kejutan. Akang terpilih menjadi salah satu karyawan yang akan diberangkatkan haji oleh kantor…¡¦ Å¢lhamdulillah….!!!¡¦Iis berteriak kegirangan. Ia langsung melompat ke arah Mamat suaminya dan memeluknya dengan erat. Dengan bersemangat Iis berkata, “Kirain berita sedih…! Berita bagus kayak begini kok dibawa sedih kayak begitu Kang? Iis ikut senang ngedengernya!¡¦Åºa… emang sebenarnya ini adalah berita gembira, cuma yang bikin Akang takut membuat kamu sedih adalah karena Akang gak punya duit untuk ngeberangkatin kamu, Is! Akang khan cuma pegawai kecil seperti kamu tahu… Kalau saja, duit itu ada, tentu Akang akan ajak kamu juga untuk berhaji ke rumah Allah!¡¦Iis lalu mengerti kegundahan yang berkecamuk dalam hati suaminya. Sambil tersenyum, Iis berujar, Ŷdah kang gak usah dipikirin, Iis rela melepas Akang naik haji.
Tapi jangan lupa doain Iis ya biar cepat nyusul!¡¦Akhirnya, apa yang dikhawatirkan Mamat tentang perasaan istrinya pun tidak berlaku. Sekali lagi Mamat bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla karenanya.

Hari itu adalah jadwal Mamat untuk berangkat haji. Seperti kebiasaan orang kampungnya, maka kepergian Mamat diantar dengan adzan dan iqamat. Pembacaan shalawat dustur yang dikumandangkan oleh seorang ustadz pun membuat semua orang haru meneteskan air mata. Saat itulah, Mamat berpamitan dengan menyalami serta merangkul orang-orang yang ia kenal seraya meminta restu. Semua anggota keluarga, kerabat, tetangga, sanak famili menghadiri acara itu.
Semuanya sudah bersalaman dan berangkulan dengan Mamat. Hingga saat Mamat hendak naik ke atas kendaraan, saat itulah tiba giliran Iis mencium punggung telapak tangan suaminya dan suasana haru pun tercipta. Air mata suami-istri itu pun jatuh membasahi bumi. Saat mereka berdua berpelukan, Iis berucap, Ŭang Mamat…., jangan lupa untuk doain Iis ya di Baitullah…
panggil-panggil nama Iis di sana. Insya Allah, Iis dan anak-anak ikhlas ngelepas Akang. Semoga kita semua,dengan doa kang Mamat, bisa nyusul berangkat haji bareng-bareng…!¡¦Tak kuasa Mamat menahan tangis. Pelukan itu makin ia pererat. Ia hanya mampu mengucapkan kata Á¢mien¡¦ Dalam hati, Mamat berucap agar Allah Swt juga berkenan mengajak istri dan anak-anaknya untuk berhaji seperti dia. Di dalam kendaraan Mamat masih sempat berdoa kepada Allah Swt untuk keluarga yang ia tinggalkan: ALLAHUMMA ANTAS SHAHIBU FIS SAFAR, WAL KHALIFATU FILAHLI. HR. Muslim źa Allah, Engkau adalah pendampingku dalam perjalanan. Engkau juga yang menggantikan aku untuk menjaga keluarga yang ditinggalkan… Amien¡¦HR. Muslim. Usai membaca doa, ia pusatkan konsentrasinya untukkhusyuk beribadah kepada Allah Swt. 42 hari Mamat menuntaskan semua ritual ibadah haji di kota suci Mekkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawwarah.

Semuanya dijalani dengan begitu khusyuk dan nikmat. Sesampainya di tanah air pun, ia langsung mendapatkan sebuah titel baru dari masyarakat. Kini ia dikenal dengan panggilan Haji Mamat di kampungnya.

Lepas 6 bulan setelah kepulangannya dari tanah suci. Iis istrinya yang dulu sempat berucap ikhlas melepas kepergian suaminya ke tanah suci, pagi itu ia kelepasan berujar bahwa dirinya sebenarnya begitu ingin juga berangkat ke tanah suci untuk berhaji. Kalimat itu dituturkan dengan nada sedih yang mengguncang hati Mamat. Kegundahan itu memang pernah diduga sebelumnya oleh Mamat. Namun baru kali ini kegundahan itu membuncah, dan tercetus lewat penuturan akan kerinduan untuk datang ke rumah Allah Swt dalam ritual haji. Muslim atau muslimah mana yang tidak mau untuk berhaji? Maka demi menghibur hati Iis, Mamat pun berujar kepadanya, Ūs… kamu memang berhak untuk berangkat haji seperti orang lain, tapi Akang belum cukup punya uang. Sekarang kita hanya mampu untuk berdoa kepada Allah Swt…. Dia Maha Kuasa…. Jangankan minta haji…. minta yang lebih dari itu Dia pun amat kuasa. Nanti malam kita bangun ya untuk shalat tahajud…! kata ustadz, doa pada sepertiga malam terakhir amat dikabul. Nanti kita doa sama-sama untuk minta naik haji.
Insya Allah akan dikabulkan… percaya deh!¡¦ Demikian ajakan Mamat kepada istrinya untuk melakukan shalat tahajud dan berdoa bersama nanti malam. Dan jakan itu, disambut dengan anggukan kepala oleh Iis tanda setuju. Rupanya Mamat pulang dari kerja tidak seperti biasa.

Hari itu ia tiba di rumah lewat dari pukul 20.00 WIB. Rupanya ada pekerjaan ekstra yang ia lakukan. Biasanya Mamat sudah tiba di rumah pukul 5 sore.
Mungkin, ada pesawat lain yang tiba di luar jadwal, sehingga beberapa kuli panggul seperti Mamat disiagakan untuk bongkar muatan. Mamat pulang dengan badan yang letih. Usai menjalani shalat Isya, ia langsung rebahan di atas kasur dan langsung tertidur. Rasa letih membuatnya lupa untuk makan malam terlebih dahulu, atau menyapa keluarganya yang masih menunggu kedatangannya.
Iis dapat memaklumi hal itu. Tidak beberapa lama kemudian, Iis pun menyusul tidur di atas ranjang bersama suaminya.

Seperti apa yang telah mereka janjikan, Iis terjaga dan bangkit dari tidur pada pukul 3 pagi. Kemudian ia tepuk-tepuk kaki suaminya. Karena terlalu letih, Mamat tak sanggup untuk bangkit dan hanya berujar, Å¢h…ah…!¡¦tanda bahwa ia tak sanggup membuka mata. Iis langsung bangkit menuju kamar mandi. Usai berwudhu, ia kembali lagi ke kamar untuk bertahajud. Sajadah telah dibentangkan dan mukena pun telah ia kenakan. Sebelum melakukan shalat, untuk kedua kalinya Iis menepuk kaki Mamat agar ia bangun dan melakukan shalat tahajud bersama-sama. Sekali lagi, Mamat hanya mengeluarkan kata, Å¢hh…ahh…!¡¦Ia terlalu lelah untuk bangkit dan menyusul istrinya untuk bertahajud. Iis pun memaklumi. Raut wajah Mamat yang letih sudah mengabarkan bahwa ia terlalu lelah bekerja hari itu. Iis pun melapalkan takbiratul ihram tanda ia memulai shalat tahajud. Begitu khusyuk shalat yang Iis dirikan, dan di atas pembaringan Mamat pun menyaksikan sosok istrinya yang bermukena sedang menjalankan shalat. Namun ia dalam kondisi antara tidur dan terjaga. Kata orang, ini adalah tidur ayam. Tidur tak mau, bangun tak kuasa. Setiap gerakan shalat yang Iis lakukan selalu ia iringi dengan tetesan air mata. Sungguh…, seolah Allah Swt hadir menyambut kedatangan Iis dalam keheningan malam itu. Hingga kedekatan dengan Sang Maha Pencipta pun dapat dirasakan oleh Iis yang menjalankan shalat tahajud. Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sudah satu jam lebih Iis melakukan shalat dan dzikir kepada Allah Swt. Waktu telah menunjukkan pukul 4 lebih. Dan ia berkeinginan untuk bermunajat kepada Allah Swt dalam lantunan dan rangkaian doa yang ia bacakan. Å¢llahumma, ya Allah… Izinkan hambaMu ini untuk dapat berhaji ke rumah-Mu. Mudahkan jalan hamba….
Lapangkanlah rezeki kami. Engkau Yang Maha Kuasa atas segalanya…. Berikan perkenanmu agar aku sanggup datang ke rumah-Mu untuk beribadah dan memakmurkannya… Dengarkan doaku dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu…!¡¦ Dalam kesyahduan doa yang dibaca oleh Iis kepada Tuhannya, rupanya Mamat pun sempat mengamini di dalam hati tanpa sepatah kata pun terucap. Sungguh, malam itu telah terbangun sebuah jalinan suci antara seorang hamba dengan Allah Swt dalam rangkaian doa yang penuh hikmat dan cita. Adzan Shubuh mulai terdengar di beberapa masjid dan mushalla. Untuk terakhir kali, Iis membangunkan Mamat suaminya sambil berujar, űak Haji… ayo bangun! Malu sama tetangga. Masa sudah haji enggak shalat Shubuh berjamaah? Ayo bangun, Kang….!¡¦Mamat pun bangkit. Berat sekali rasanya ia mengangkat badan. Setelah berwudhu, ia pun mengenakan pakaian yang bersih lalu berangkat menuju mushalla untuk melaksanakan shalat Shubuh. Mamat mengucapkan salam saat masuk kembali ke rumah. Iis dan anak-anak pun sudah bangun semua. Inilah rumah yang berkah.
Semua sudah terjaga dan bangkit untuk menyongsong hari yang indah. Mamat kemudian meminta Iis membuatkan secangkir kopi untuknya. Kemudian dengan tasbih di tangan, ia baru saja hendak menempelkan pantatnya ke kursi sofa di ruangan depan.

Namun tiba-tiba hasratnya untuk duduk, dihentikan oleh dering telfon yang berbunyi keras di pagi hari. Mamat pun mengangkat gagang telfon.

Å¢ssalamuÃÂlaikum….. ini dari mana dan mau bicara dengan siapa?¡¦Mamat membuka pembicaraan. Å®at… ini teh Sulis, Iis ada nggak?¡¦demikian suara di seberang menjawab. Mamat pun tahu bahwa orang yang menelfon ini rupanya adalah kakak iparnya sendiri. Tanpa berpikir panjang, Mamat pun memanggil Iis yang saat itu sedang hendak membuatkan kopi untuknya. Mamat kembali duduk di atas kursi sofa. Sementara Iis duduk di lantai untuk menerima telfon. Baru saja Iis mengucapkan salam kepada teh Sulis, namun setelah itu tidak ada satu patah kata pun yang meluncur dari mulut Iis. Yang ada adalah deraian air mata dan kata, ÁÊya Teh!¡¦berulang-ulang diucapkan. Pembicaraan telfon di pagi hari itu sudah lebih dari 10 menit berlangsung. Melihat istrinya terus menangis, Mamat menduga bahwa ada berita buruk yang terjadi terhadap keluarga hingga pagi-pagi begini sudah menelfon dan membuat istrinya menangis. Mamat mengira bahwa ada salah seorang familinya berpulang kepangkuan Ilahi. Gagang telfon itu kemudian diletakkan Iis. Ia masih sesenggukan menahan tangis. Iis mencoba mengangkat wajah dan menghadap ke arah suaminya. Saat itu Mamat mencoba menyelak dengan pertanyaan, Å´iapa yang meninggal, Is..?¡¦Masih sesenggukan Iis menjawab, Ũak ada yang meninggal, Kang!¡¦Å¬alu kenapa kamu menangis kayak begitu, emangnya berita sedih apa yang diceritain teh Sulis?¡¦Mamat masih mengejar dengan pertanyaan yang lebih menukik.
Saat itulah Iis menceritakan hal sebenarnya, Ŭang…., barusan teh Sulis bilang bahwa ia berniat berangkat haji tahun ini. Kebetulan kang Andi suaminya lagi banyak kerjaan. Kang Andi gak bisa nemenin…. Teh Sulis tadi nanya saya, kamu khan belum berhaji, mau gak saya ajak? Teh Sulis mau bayarin biaya haji saya…. tapi saya disuruh minta izin dulu ke Akang.

Iis gak nyangka, Kang…. begitu cepat Allah menjawab doa yang baru saja Iis sampaikan dalam tahajud. Sekarang, pilihan mah ada di Akang. Jika Akang izinkan, saya siap. Kalau Akang enggak izinin saya juga ikhlas…!¡¦Iis berhenti sejenak mengatur nafasnya yang masih sesenggukan. Air mata itu masih menetes tanda haru dan syukur atas doa yang Allah Swt kabulkan.
Sementara Mamat masih terdiam, terperangah dan takjub atas kemurahan Tuhan.
Mamat langsung merangkul istrinya ke dalam dekapan. Mamat berujar, Ŭamu boleh berangkat haji untuk beribadah dan nemenin teh Sulis. Akang ikhlas mengizinkan kamu dan merawat anak-anak di rumah. Silahkan kamu berhaji untuk melengkapi agama kamu, Is!¡¦Keduanya masih berpelukan erat tanda haru dan syukur atas nikmat Allah Swt yang tiada ternilai. Dalam keharuan tersebut ternyata masih tersisa sebuah penyesalan dalam dada Mamat yang kemudian terbersit di hatinya, Ťoba, saya ikut bangun tahajud dan berdoa kepada Allah untuk minta haji. Mungkin bisa berangkat bareng-bareng juga kali ya….?!¡¦Itulah kisah sepasang suami-istri hamba Allah Swt yang dimudahkan untuk berhaji ke Baitullah.
Semoga Anda dan saya dapat menerima anugerah serupa. Amien!

Å¢llah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.¡¦(QS. 2:185)