Hukum Nasyid-nasyid Islami

Posted: 23 Februari 2010 in Artikel
Tag:, , , , ,

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Pertanyaan
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Banyak beredar di kalangan pemuda muslim kaset-kaset nasyid yang mereka sebut an-nasyid Islamiyyah. Bagaimana sebenarnya permasalahan ini ?

Jawaban
Jika an-nasyid ini tidak disertai alat-alat musik, maka saya katakan pada dasarnya tidak mengapa, dengan syarat nasyid tersebut terlepas dari segala bentuk pelanggaran syariat, seperti meminta pertolongan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala,

bertawassul kepada makhluk, demikian pula tidak boleh dijadikan kebiasaan (dalam mendengarkannya,-pent), karena akan memalingkan generasi muslim dari membaca, mempelajari, dan merenungi Kitab Allah Azza wa Jalla yang sangat dianjurkan oleh Nabi Shallallahu ˜alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya beliau bersabda.

Artinya : Barangsiapa yang tidak membaca Al-Qur’an dengan membaguskan suaranya, maka dia bukan dari golongan kami [Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 5023 dan Muslim no. 232-234]

Artinya : Bacalah Al-Qur’an dan baguskanlah suaramu dengannya sebelum datang beberapa kaum yang tergesa-gesa mendapat balasan (upah bacaan), dan tidak sabar menanti untuk mendapatkan (pahalanya di akhirat kelak), maka bacalah Al-Qur’an dengan membaguskan suara(mu) dengannya.

Lagipula, barangsiapa yang mengamati perihal para sahabat Radhiyallahu ˜anhum, dia tidak akan mendapatkan adanya annasyid-annasyid dalam kehidupan mereka, karena mereka adalah generasi yang sungguh-sungguh dan bukan generasi hiburan.

[Al-Ashaalah, 17 hal. 70-71]

[Disalin ulang dari buku Biografi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah Mujaddid dan Ahli Hadits Abad Ini. Penyusun Mubarak bin Mahfudh Bamuallim Lc, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i]

sumber : artikelassunnah.blogspot.com

Komentar
  1. abu hanif mengatakan:

    Saudaraku, Lihatlah keadaan orang-orang yang rongga-rongga dada mereka terpenuhi syair dan nasyid hingga memenuhi hati-hati dan lisan-lisan mereka. Mereka selalu menyenandungkan nasyid di dalam keadaan tinggal dan safar, di dalam diam dan segala gerak-gerik mereka; bukankah mereka lebih pantas untuk menghadap kepada Kitabulloh, ilmu, belajar, dan dzikir-dzikir yang disyari’atkan Alloh Ta’ala?

  2. abu hanif mengatakan:

    Afwan, saya menambahinya dengan fatwa Syaikh Muhammad , semoga bermanfaat bagi kaum muslimin. Amin.
    Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahulloh ditanya: “Bolehkah kaum laki-laki melantunkan nasyid-nasyid bersama-sama? Bolehkah nasyid diiringi dengan pukulan rebana? Dan apakah nasyid diperbolehkan pada selain hari raya dan pesta kegembiraan?”
    Beliau menjawab: “Nasyid islami (hakikatnya) adalah nasyid bid’ah, serupa dengan apa yang dibuat-buat oleh orang-orang sufi. Oleh karena itu, selayaknya (kita) berpaling dari na­syid itu dan menggantinya dengan al-Qur‘an dan as-Sunnah. Kecuali dalam saat-saat peperangan, agar memberikan motivasi keberanian dan berjihad di jalan Alloh w maka hal ini adalah baik. Dan jika berkumpul dengan (tabuhan) rebana, maka hal itu lebih jauh lagi dari kebenaran.” (Fatawa Syaikh Muhammad al-Utsaimin, dihimpun oleh Asyrof Abdul Maqshud, hlm. 134)

  3. abu hanif mengatakan:

    Ada syubhat:
    Orang yang menyebarluaskan nasyid ini kadang berdalih bahwa Nabi pernah diperdengarkan di sisi beliau syair-syair, dan beliau menikmatinya serta menetapkan (boleh)nya (nasyid).
    Maka Syaikh Sholih al-Fauzan menjawab syubhat ini dengan mengatakan: “Bahwa syair-syair yang diperdengarkan di sisi beliau n bukanlah dilantunkan dengan paduan suara semacam nyanyian-nyanyian, dan tidak pula dinamakan nasyid-nasyid islami, namun ia hanyalah syair-syair Arab yang mencakup hukum-hukum dan tamtsil (permisalan), penunjukan sifat keperwiraan dan kedermawanan.
    Para sahabat melantunkannya secara sendi­rian lantaran makna yang dikandungnya. Mereka melantunkan sebagian syair ketika melakukan pekerjaan yang melelahkan, seperti membangun (masjid), berjalan di waktu malam saat safar (jihad). Maka perbuatan mereka ini menunjukkan atas bolehnya semacam lantunan (syair) ini dalam keadaan khusus (seperti) ini, bukannya dijadikan sebagai salah satu cabang ilmu pendidikan dan dakwah! Sebagaimana hal ini merupakan kenyataan di zaman sekarang, yang mana para santri di-talqin (dilatih menghafal) nasyid-nasyid ini, lalu dikatakan sebagai nasyid-nasyid Islam. Ini merupakan perbuatan bid’ah dalam agama. Sedang ia merupakan agama kaum sufi ahli bid’ah. Mereka adalah orang-orang yang dikenal menjadikan nasyid-nasyid sebagai bagian agama.
    Maka wajib memperhatikan makar-makar ini. Karena pada awalnya kejelekan itu sedikit lalu berkembang lambat laun menjadi banyak, ketika tidak diberantas pada saat kemunculannya.” (al-Khuthobul Minbariyah 3/184–185)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s